Narwati, Ahlinya Segala Masalah Kamar Tidur
KOMPAS, Selasa, 11 Agustus 2009 | 17:06 WIB
Oleh Idha Saraswati
Sebutan ahli masalah kamar tidur agaknya memang cocok disematkan kepada Narwati (33). Setelah sekitar sembilan tahun menjalani usaha di bidang perlengkapan kamar tidur, usahanya berkembang.
Ia tidak hanya menyediakan pernak-pernik kebutuhan kamar tidur, mulai dari bed cover hingga spring bed, melainkan juga melayani reparasi spring bed dan bahkan membuka persewaan spring bed.
Usaha Narwati dimulai dari hobi. Ketika kuliah di Jurusan Tata Boga dan Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, ia sudah kerap menerima pesanan pakaian dari teman-teman indekosnya. Oleh karena itu, setelah menikah, ia dan Sutikno (43), suaminya, memutuskan untuk membuka usaha yang tidak jauh-jauh dari keahlian Narwati.
Pasangan ini merintis usaha mereka pada tahun 2000 silam. Awalnya mereka memilih membuka toko dan menjual produk-produk, seperti seprai yang diambil dari para pemasok. Lama-lama, sejumlah pemasok bersedia memberi pinjaman kain dengan jangka waktu pengembalian yang longgar. Dari situlah kemudian Narwati mulai menjahit seprai dan bed cover.
”Sebenarnya modal dalam bentuk uang itu bukan yang utama. Yang penting kepercayaan. Kalau kita dipercaya, kita bisa mendapat bahan- bahan untuk produksi,” katanya, Senin (10/8).
Ternyata sambutan pasar terhadap produk Narwati cukup baik. Selain bed cover, Narwati juga memproduksi seprai dan bantal dengan merek TIA Collection. Ia juga menerima pesanan untuk membuat bed cover, seprai, dan bantal sesuai selera pembeli.
Seiring dengan berkembangnya usaha tersebut, Sutikno yang pernah bekerja sebagai sales spring bed di Jakarta lantas mendapat ide untuk memproduksi spring bed. Ternyata pasar spring bed di Yogyakarta cukup baik. Banyaknya hotel, penginapan, asrama, dan tempat indekos menjamin pemasaran spring bed maupun kebutuhan kamar tidur di Yogyakarta.
Selain memproduksi spring bed dengan merek Edelweiss, mereka juga menerima reparasi spring bed. Menurut Sutikno, pelanggan reparasi spring bed berasal mulai dari perorangan hingga hotel-hotel berbintang di Yogyakarta.
Bukan hanya itu, mereka juga menyewakan spring bed dan kasur busa. Saat tamu hotel membeludak, biasanya spring bed ataupun kasur busa milik mereka ramai disewa. ”Awalnya banyak yang menertawakan ide persewaan ini, tetapi ternyata malah hasilnya banyak he-he-he. Yang butuh tempat tidur tambahan ternyata tidak sedikit,” ujar Sutikno.
Setelah sembilan tahun merintis usaha, kini mereka memiliki sekitar 20 tenaga kerja. Mereka bekerja baik sebagai penjahit, pembuat spring bed, maupun penjaga gerai produk.
Saat ini mereka telah memasarkan produknya hingga ke sejumlah kota di Jawa Tengah, Jakarta, Pulau Kalimantan, hingga Ambon. Di Yogyakarta mereka memiliki dua gerai produk di Jalan Lingkar Selatan dan Jalan Palagan Tentara Pelajar.
Selain itu, setiap hari Minggu pagi mereka juga menggelar produknya di pasar Sunday Morning UGM. Meski cuma beberapa jam, kata Narwati, menggelar produk di UGM cukup menguntungkan, baik dari segi omzet maupun pemasaran. ”Saya tidak pernah menghitung berapa omzet per bulan. Yang pasti dari usaha ini kami bisa hidup cukup dan membayar karyawan,” ucap Narwati.
Selamat Datang di Blog Sunday Morning UGM.
Blog ini merupakan suatu wadah yang diperuntukkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang Wisata Minggu Pagi UGM sebagai Wahana Olahraga dan Belanja yang diadakan hanya setiap hari Minggu pagi di sepanjang jalan Notonagoro UGM.
Sabtu, 05 September 2009
Wisata Minggu Pagi UGM oleh JTTCUGM (JOGJA TOURISM TRAINING CENTER UNIVERSITAS GAJAH MADA)
Lesehan Minggu pagi diawali sekitar akhir tahun 80-an, dengan lokasi sekitar bulevard, Purna Budaya, dan “University Centre” (UC) di Kampus UGM. Sekarang, dengan adanya jalan tembus Lembah UGM dan Jalan Samirono, serta dibangunnya Masjid UGM, dan jalan tembus ke arah Kampung Karang Malang di sebelah timur, maka kawasan itu jadi mudah diakses.
Tren yang terjadi, sejak sekitar setahun terakhir atau lebih, setiap Minggu pagi tergelar sebuah pasar kaget aneka komoditas. Mulai dari pernik-pernik aneka suvenir mungil, makanan kecil, sandal, garmen, hingga “bed cover”, mudah didapatkan.
Ditaksir, pasar kaget ini menarik tak kurang dari 3.000 pengunjung. Jam praktiknya tak terlalu lama, antara pukul 06.00-10.30 saja.
Pernak Pernik di Minggu Pagi UGM
Pasar kaget mingguan alias “Sunday Market” di UGM telah lahir. Menciptakan pasar janganlah dipandang enteng, gampang-gampang susah. Swasta-pemerintah yang mencoba merelokasi beberapa pasar merasakan bagaimana susahnya meramaikan pasar yang dibangun baru.
Tengoklah Pasar Telogorejo di seputaran Jalan Godean Km 4, saat ini sudah menginjak usia tahun ketiga atau malah keempat, namun pertumbuhannya seret. Pasar yang awalnya dimaksudkan oleh pengembang sebagai pasar garmen, dapat dikatakan gagal total.
Miliaran rupiah biaya investasi entah kapan kembali, mungkin kapan-kapan. Pasar Telogorejo saat ini cenderung ramai sebagai pasar burung. Penjual dan pembeli memang menginginkan demikian, setidaknya dua kali seminggu.
Sungguh beruntung UGM mendapatkan pasar kaget mingguan seperti itu. Keperca-yaan publik (penjual yang meramaikan, juga bagian dari publik, lho!?) yang dirintis puluhan tahun. Menjadi sungguh sayang, jika pasar kaget ini ditangkap birokrat UGM sebagai kaki lima semata. Sepintas, praktik pasar kaget mingguan yang sekarang memang cenderung menutup jalan, kumuh, parkir ilegal yang mahal, dan sebagainya.
Adakah kepercayaan publik dan fenomena semacam pasar kaget mingguan telah direspons oleh pihak UGM, Pemkab Sleman, atau Pemprov DIY? Dengan sentuhan manajemen dan kerelaan UGM untuk mewadahi aktivitas fenomenal tersebut, serta dukungan pemerintah untuk pengaturan lalu lintas khusus di hari Minggu pagi, niscaya kita semua warga Yogya akan mempunyai tambahan daya tarik wisata yang signifikan.
Jika pihak UGM menambah kerelaannya untuk ruang terbukanya yang seabrek itu, agar dapat digunakan sebagai pasar kaget mingguan, dan ada pengaturan khusus lalu lintas bermotor, misalnya khusus di Minggu pagi (06.00-10.30) ruas jalan timur UGM menjadi “semipedestrian”. Kendaraan umum dan roda empat menggunakan ruas tengah serta pemanfaatan ruang parkir “off-street” (misal selatan FKG). Maka, pasar kaget mingguan yang ada sekarang akan lebih manusiawi dan optimal, tak kalah dengan “flea-market” atau “fresh market” di negeri-negeri Eropa atau Australia.
Sebagai tambahan, taman di Lembah UGM yang sekitar sebulan terakhir dibuka untuk umum, dapat menjadi ruang publik yang melegakan. Tengoklah keceriaan anak-anak (juga orangtuanya) yang bercengkerama dengan rusa-rusa yang jinak, atau sekadar melihat pemancing yang berderet di sekitar kolam Lembah UGM, atau duduk menikmati saujana lembah dari bangku-bangku taman yang tersebar.
Tak apalah, kalau “lisjtplank” “Di Sini Akan Dibangun Museum Serangga dan Kupu-kupu” belum jadi-jadi, walaupun sudah menghiasi kawasan itu lebih dari lima tahun terakhir ini. Namun, sebenarnya hal itu potensi yang lama tersia-siakan. Lembah UGM sungguh oase untuk bercengkerama dengan keluarga dan teman, bahkan “jogging-track” yang sangat lumayan.
Pihak UGM untuk pengelolaan taman lembah sebenarnya juga dapat menarik sekadar karcis masuk, sekadar untuk membeli tong sampah yang kayaknya belum pernah ada. Atau, untuk membuat dan mengelola fasilitas kamar mandi-WC yang layak.
Terus terang agak khawatir melihat pasar kaget mingguan dan Lembah UGM yang fenomenal tersebut, sangat mudah diberi cap kumuh, mengganggu lalu lintas, rawan kecelakaan. Dan, ketularan “ngelmu” dan teknik penguasa-penguasa kota yang mudah men-”delete” fenomena semacam itu, atas nama proyek relokasi dan ketertiban.
Mari Pak Rektor, Mas-mas pengelola pusat-pusat studi atau BEM di UGM untuk turun tangan, menyambut kepercayaan publik yang sedemikian besar atas lingkungan kampus. Sedikit sentuhan saja, insya Allah Kampus Gadjah Mada akan lebih terasa manusiawi, di tengah-tengah lingkungan Kota Yogya yang semakin sesak dengan baliho iklan raksasa dan mal yang mengepung. Bersediakah Anda??!
DAMBUNG LAMUARA DJAJA
Anggota KERUPUK (Komunitas Peduli Ruang Publik Kota)
Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0602/15/jogja/21002.htm
Tren yang terjadi, sejak sekitar setahun terakhir atau lebih, setiap Minggu pagi tergelar sebuah pasar kaget aneka komoditas. Mulai dari pernik-pernik aneka suvenir mungil, makanan kecil, sandal, garmen, hingga “bed cover”, mudah didapatkan.
Ditaksir, pasar kaget ini menarik tak kurang dari 3.000 pengunjung. Jam praktiknya tak terlalu lama, antara pukul 06.00-10.30 saja.
Pernak Pernik di Minggu Pagi UGM
Pasar kaget mingguan alias “Sunday Market” di UGM telah lahir. Menciptakan pasar janganlah dipandang enteng, gampang-gampang susah. Swasta-pemerintah yang mencoba merelokasi beberapa pasar merasakan bagaimana susahnya meramaikan pasar yang dibangun baru.
Tengoklah Pasar Telogorejo di seputaran Jalan Godean Km 4, saat ini sudah menginjak usia tahun ketiga atau malah keempat, namun pertumbuhannya seret. Pasar yang awalnya dimaksudkan oleh pengembang sebagai pasar garmen, dapat dikatakan gagal total.
Miliaran rupiah biaya investasi entah kapan kembali, mungkin kapan-kapan. Pasar Telogorejo saat ini cenderung ramai sebagai pasar burung. Penjual dan pembeli memang menginginkan demikian, setidaknya dua kali seminggu.
Sungguh beruntung UGM mendapatkan pasar kaget mingguan seperti itu. Keperca-yaan publik (penjual yang meramaikan, juga bagian dari publik, lho!?) yang dirintis puluhan tahun. Menjadi sungguh sayang, jika pasar kaget ini ditangkap birokrat UGM sebagai kaki lima semata. Sepintas, praktik pasar kaget mingguan yang sekarang memang cenderung menutup jalan, kumuh, parkir ilegal yang mahal, dan sebagainya.
Adakah kepercayaan publik dan fenomena semacam pasar kaget mingguan telah direspons oleh pihak UGM, Pemkab Sleman, atau Pemprov DIY? Dengan sentuhan manajemen dan kerelaan UGM untuk mewadahi aktivitas fenomenal tersebut, serta dukungan pemerintah untuk pengaturan lalu lintas khusus di hari Minggu pagi, niscaya kita semua warga Yogya akan mempunyai tambahan daya tarik wisata yang signifikan.
Jika pihak UGM menambah kerelaannya untuk ruang terbukanya yang seabrek itu, agar dapat digunakan sebagai pasar kaget mingguan, dan ada pengaturan khusus lalu lintas bermotor, misalnya khusus di Minggu pagi (06.00-10.30) ruas jalan timur UGM menjadi “semipedestrian”. Kendaraan umum dan roda empat menggunakan ruas tengah serta pemanfaatan ruang parkir “off-street” (misal selatan FKG). Maka, pasar kaget mingguan yang ada sekarang akan lebih manusiawi dan optimal, tak kalah dengan “flea-market” atau “fresh market” di negeri-negeri Eropa atau Australia.
Sebagai tambahan, taman di Lembah UGM yang sekitar sebulan terakhir dibuka untuk umum, dapat menjadi ruang publik yang melegakan. Tengoklah keceriaan anak-anak (juga orangtuanya) yang bercengkerama dengan rusa-rusa yang jinak, atau sekadar melihat pemancing yang berderet di sekitar kolam Lembah UGM, atau duduk menikmati saujana lembah dari bangku-bangku taman yang tersebar.
Tak apalah, kalau “lisjtplank” “Di Sini Akan Dibangun Museum Serangga dan Kupu-kupu” belum jadi-jadi, walaupun sudah menghiasi kawasan itu lebih dari lima tahun terakhir ini. Namun, sebenarnya hal itu potensi yang lama tersia-siakan. Lembah UGM sungguh oase untuk bercengkerama dengan keluarga dan teman, bahkan “jogging-track” yang sangat lumayan.
Pihak UGM untuk pengelolaan taman lembah sebenarnya juga dapat menarik sekadar karcis masuk, sekadar untuk membeli tong sampah yang kayaknya belum pernah ada. Atau, untuk membuat dan mengelola fasilitas kamar mandi-WC yang layak.
Terus terang agak khawatir melihat pasar kaget mingguan dan Lembah UGM yang fenomenal tersebut, sangat mudah diberi cap kumuh, mengganggu lalu lintas, rawan kecelakaan. Dan, ketularan “ngelmu” dan teknik penguasa-penguasa kota yang mudah men-”delete” fenomena semacam itu, atas nama proyek relokasi dan ketertiban.
Mari Pak Rektor, Mas-mas pengelola pusat-pusat studi atau BEM di UGM untuk turun tangan, menyambut kepercayaan publik yang sedemikian besar atas lingkungan kampus. Sedikit sentuhan saja, insya Allah Kampus Gadjah Mada akan lebih terasa manusiawi, di tengah-tengah lingkungan Kota Yogya yang semakin sesak dengan baliho iklan raksasa dan mal yang mengepung. Bersediakah Anda??!
DAMBUNG LAMUARA DJAJA
Anggota KERUPUK (Komunitas Peduli Ruang Publik Kota)
Sumber: http://www2.kompas.com/kom
Langganan:
Komentar (Atom)